Rabu, 25 April 2012

Sembilan


Matanya terus menerus menatap pada satu titik, tanpa menghiraukan percakapan dua ibu-ibu paruh baya di sampingnya. Matanya terus menerus menatap pada satu titik, meski bau menyengat keluar dari ketiak-ketiak yang bergelantungan. Matanya terus menerus menatap pada satu titik, walau #Bus Kota yang ia tumpangi hampir oleng karena terlalu sesak oleh penumpang. Sedangkan pikirannya  terdesak oleh uang setoran yang harus ia berikan sore ini. Tidak ada cara lain pikirnya. Usianya baru sembilan tahun saat itu. Ia mengintip sedikit ke wajah si pemilik dompet yang terlihat sedang memandang ke arah luar. Perlahan ia berusaha mengeluarkan dompet yang memang sudah menyembul dari balik kantong celana. Dengan satu tarikan, dompet itu kini telah berpindah tempat. Segera ia masukan ke dalam celana. Celana yang sudah berlubang di sana sini. Tapi si pemilik celana sama sekali belum berniat menggantinya. Ia melipat tangannya dan berjalan mundur menembus kumpulan manusia yang sedang berdiri di dalam #Bus Kota. Begitu melihat perempatan lampu merah, ia segera turun dan berlari. Kakinya baru berhenti berlari saat ia merasa aman untuk memeriksa dompet tadi. Ada beberapa lembar uang segar, kartu identitas penduduk, kartu nama, dan sebuah foto keluarga. Ia memutuskan untuk membakar kartu-kartu dan foto itu, sedangkan dompetnya ia ambil beserta uang di dalamnya. Bodoh juga pria tadi, uang segitu cukup untuk naik taksi pikirnya sambil memasukkan  uang tadi ke dalam ke sakunya. Tapi uang tadi tidak bertahan lama di sakunya. Adalah Bang Eno, preman terminal dan para anak buahnya yang mengambilnya.
“Lumayan untuk uang keamanan tiga hari!” kata salah satu anak buah Bang Eno sambil tertawa puas.
Anak laki-laki itu mengerang, memberontak, mengigit dan apa saja yang bisa ia lakukan untuk mempertahankan sisa-sisa jerih payahnya. Tapi semakin keras ia memberontak, semakin keras juga pukulan yang ia terima. Saat itu cita-citanya adalah menjadi preman ketika ia dewasa nanti. Berkuasa.

***

Umurnya sembilan belas ketika ia mengganti cita-citanya. Tak ada lagi terminal, Bang Eno atau #Bus kota tempat ia mencopet dulu. Sekarang tempat itu telah rata oleh gedung perkantoran bertingkat. Hanya faktor keberuntungan yang membuat ia ddapat bekerja di dalamnya. Sebagai tukang suruh, atau bahasa kerennya Office Boy. Berhubung ada dua orang yang bernama sama dengannya, maka mereka menjulukinya Robin si OB. Pekerjaan itu tidaklah menjanjikan. Gajinya juga tidak sebanding dengan hasil copetannya dulu. Tapi satu hal, ia tidak perlu membagi gajinya kepada siapapun lagi. Dan para pegawai serta bos-bos di kantor sering memuji kopi dan indomie buatannya.
“Kamu harus buka kedai kopi, Bin.” puji Neina sekertaris Manager Personalia, ketika ia mencicipi kopi buatan Robin.
“Dan warung Indomie Kornet” tambah Robin, Staff Administrasi yang namanya sama dengan dirinya.
Berawal dari pujian-pujian itu, Robin si OB memiliki cita-cita baru. Membuka kedai kopi.

***

Usianya dua puluh sembilan ketika ia berhasil membuka Kedai Kopi Robin Hut, di salah satu kawasan perkantoran elite di ibu kota. Setahun setelah ia memutuskan cita-cita terakhirnya, Robin segera berupaya untuk mewujudkannya. Ia keluar dari pekerjaannya dan berangkat ke negeri tetangga menjadi TKW. Dengan janji bayaran dan fasilitas yang lebih tinggi, Robin mulai menyisihkan sedikit demi sedikit hasil jerih payahnya. Sewaktu libur, ia tidak pulang ke Indonesia. Toh aku juga tidak punya keluarga pikirnya. Waktu kosong itu, dimanfaatkan dengan bekerja paruh waktu di kedai kopi. Jika sebelumnya ia hanya memikirkan keinginan-keinginan, kali ini ia berusaha mencapainya. Setelah delapan tahun bekerja siang malam, jerih payahnya terbayar dengan berdirinya Kedai Kopi miliknya. Dan dari sana juga ia bertemu Sandra, seorang Banker muda yang sering datang ngopi di kedai. Sandra memang lebih dewasa lima tahun dari Robin, tapi perbedaan itu yang justru membuat Robin memikirkan cita-cita lainnya. Meresmikan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.

***

Wajah Robin terlihat seperti orang yang berusia empat puluh sembilan tahun, padahal usia ia seseungguhnya adalah tiga puluh sembilan tahun. Ia mengalami penuaan dini karena rasa bersalah yang terus menghantuinya. Bagaimana tidak, tepat di hari ia melamar Sandra di rumahnya, ia bertemu dengan orang yang ia copet pertama kalinya di dalam #Bus Kota dua puluh tahun yang lalu. Orang itu adalah ayah kandung Sandra. Tentu saja calon mertuanya itu tidak dapat mengenali dirinya, berbeda dengan dirinya yang akan terus mengingat hari itu. Dan dari Sandra ia mendengar sebuah cerita. Cerita yang akan menggenapi #Cerita hari ini. Bahwa, di hari ibu kandungnya meninggal, ayahnya menarik sejumlah uang di bank untuk membeli darah. Tetapi siapa sangka, di tengah perjalanan kembali ke rumah sakit, ayahnya dicopet. Seluruh isi dompet, kartu identitas lenyap dalam sekejap. Akhirnya ibunya kehabisan darah dan meninggal. Sejak mendengar cerita itu, Robin selalu dihantui perasaan bersalah. Ia tidak percaya diri untuk mewujudkan cita-cita terakhirnya, yaitu menikahi Sandra. 

1 komentar: