Jumat, 28 September 2012

Danau Lau Kawar yang Terlupakan




Judulnya agak sedikit seperti sinetron yah? Tapi memang itulah yang terjadi ketika pekan lalu saya dan tim kantor mengadakan acara kebersamaan di Danau Lau Kawar. Mulanya saat saya izin pada orang tua akan berangkat ke Lau Kawar, mereka bilang: "Buat apa ke sana? Dulu waktu muda kita udah pernah ke sana dan cuma lihat danau aja dan sepinya bukan main." Wah saya jadi agak goyah juga.
Rencananya, pulang dari kantor pukul 17.00 kami berangkat langsung tancap gas ke Brastagi, dengan estimasi pukul 19.30 sudah sampai di Brastagi dan masih sempat untuk masak-masak acara BBQ dan malamnya pesta durian! Rencana tinggal rencana... Pada hari H jam keberangkatan diundur lebih lama setengah jam, karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Pukul 17.40 kami baru jalan dari kantor dan tenyata... macet dimana-mana sampai ke arah Jamin Ginting. Ditambah hujan deras yang mengguyur kota Medan membuat jalanan semakin macet. Dalam hati kami tetap berharap agar Brastagi tidak turun hujan, karena bisa batal acara BBQnya. Yang tadinya berharap pukul 19.30 sampai di Brastagi, molor jadi pukul 21.00. 
Setelah bertanya pada beberapa warga, kami disarankan masuk di persimpangan Tugu Perjuangan Kota Brastagi melewati Kecamatan Simpang Empat menuju Danau Lau Kawar. Hampir kurang lebih empat puluh lima menit, kami sampai juga di Danau Lau Kawar dan langsung menuju Vila. Dalam kondisi letih, lapar ditambah kedinginan dan hujan yang ternyata juga mengguyur Kota Brastagi, kami harus mempersiapkan makanan. Jadilah dibagi tugas yang wanita mempersiapkan hidangan steamboat dan yang pria tugasnya BBQ. Suasana ricuh, berhubung kami berjumlah 15 orang dan hanya menyewa 1 Vila. Setengah jam kemudian, makanan semua siap disajikan ala kadarnya. Masih dengan batik yang melekat di tubuh, kami semua makan dengan riang. Usai menyantap makanan utama, lanjut dengan pesta Durian dan membersihkan seluruh peralatan memasak. Tibalah waktu tidur. Kamar hanya ada 2 ranjang dan di seluruh Vila hanya terdapat 1 kamar mandi, sementara kami ber-lima belas belum mandi. JENG JENG! Salah satu rekan segera menghubungi pengurus Vila untuk minta Extra Bed. Ada beberapa rekan yang mandi, ada juga yang tidak (termasuk saya, hehe). Pengurus Vila saja sampai terkejut melihat kami. Dengan adanya 3 Extra Bed dan 1 Sleeping Bed, sisa orang yang tidak dapat jatah terpaksa tidur di lantai alias 'susung gembung'. Saat itu sudah hampir pukul 12 malam. Kami rada menyesal juga kenapa nekad pergi ke Lau Kawar, danaunya tidak tampak sama sekali karena gelap tadi. Dan bisa di tebak, ada beberapa yang tidak bisa tidur ada yang hanya tidur-tidur ayam. Pukul 04.00 subuh salah satu teman kantor bangun karena tidak bisa tidur dan memutuskan untuk mandi saja, diikuti dengan teman-teman lain. Jadilah kami antri kamar mandi dari pukul empat pagi!
Perlahan, matahari mulai terbit dan pemandangan Danau yang semalam tidak kelihatan, mulai menunjukkan pesonanya. Ditemani Pop Mie sebagai sarapan dan pemandangan yang benar-benar indah adalah moemn yang terbayarkan setelah kelelahan semalam. Usai mandi, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar sambil mengambil beberapa gambar.

Rumah Jeruk

Vila yang kamii tinggali mempunyai nama lain Rumah Jeruk. Saya kurang tahu darimana asal nama ini, dari bentuk tidak begitu mirip, sedangkan di belakang Vila memang ada perkebunan tapi bukan menanam jeruk melainkan tomat. Rumah Jeruk ini hanya ada 2 di Danau Laau Kawar dan menjanjikan pemandangan langsung menghadap Danau. Harga yang di tawarkan untuk menginap semalam cukup mahal menurut saya yaitu Rp. 1,280,000,- makanya kadang ada beberapa wisatawan yang memutuskan untuk ber-Kamping saja. 

Memancing di tengah Danau

Beberapa rekan saya memutuskan untuk menyewa sampan. Karena bosan menunggu antrian mengantri, mereka pun mencoba untuk memancing. Tapi apa daya mereka belum beruntung, tak ada satu ikan pun yang nyangkut di kail mereka. Ada juga sampan bermotor yang disewakan untuk berkeliling Danau.
Latar Belakang Gunung Sinabung

Saya pun tidak mau kalah untuk mencoba sensasi bersampan ria di tengah Danau. Air Danaunya berwarna kehijauan dan sangat tenang. Berada di tengah Danau sangat sepi, cocok untuk orang yang ingin beristirahat dari hiruk pikuk perkotaan. Meskipun weekend, tidak banyak pengunjung yang berada di Danau, hanya kami-kami saja. Batin saya sebenarnya sangat menyayangkan kondisi ini. Danau Lau Kawar sebenarnya punya potensi wisata yang sangat tinggi, akan tetapi jalan untuk masuk Vila masih rusak, meskipun jalan menuju Danau sudah rapi di aspal. Keindahan alam Danau Lau Kawar bisa dikembangkan lebih jauh, dengan berpromosi misalnya. Karena dulu Danau ini cukup tersohor, tetapi belakangan namanya malah terlupakan. Mudah-Mudahan saja pemerintah kota setempat bisa lebih serius dalam perkembangan objek wisata ini. Amin.


Sabtu, 01 September 2012

Pesta Pernikahan Tibetan


Malam pertama kami tiba di Lhasa, di hotel yang kami tempati disewa untuk acara pernikahan. Awalnya saya tidak tahu itu sebuah acara pernikahan, karena dari luar memang tidak tampak seperti pesta pernikahan pada umumnya. Lalu saya mendekati seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari lokasi, rupanya ia salah satu wisatawan yang berasal dari Taiwan. Dia sedang menunggu teman-temannya yang tampak sangat penasaran dengan pesta ini. Tidak lama kemudian, keluar dua wanita Tibetan, satu agak tua dan satu lebih muda. Musik pun mulai berdentang dan jogetlah mereka disusul teman-teman turis asal Taiwan ini. Mereka menari mengikuti gerakan si wanita tua yang belakangan saya tahu bahwa dia adalah ibunya mempelai. 

Mereka menari mengelilingi asap


Usai tarian habis, saya mengelilingi lokasi pesta. Lokasinya sendiri terdiri dari beberapa ruangan, ruangan-ruangan itu digunakan untuk makan, bermain mahyong, tempat masak atau bersembahyang. Ada satu ruangan paling besar (seperti aula) yang merupakan tempat kedua mempelai berada. Sayang sekali saya tidak sempat melihat kedua mempelai.

Menu makanan

Menu makanan yang dipilih adalah menu prasmanan dengan jenis sayur yang sangaattt banyaak. Kurang lebih ada sekitar lima puluhan jenis makanan, lima jenis kue/manisan. Makananya di letakkan di luar, mungkin di dalam ruangan tidak cukup saking banyaknya. Para tamu yang datang dipersilahkan mengambil makanan, kemudian menyantapnya di ruangan-ruangan tadi. Dengan ramah, ibu mempelai mempersilakan kami untuk menyicipi hidangan.


Takut jenis hidangannya tidak pas di lidah, maka saya memutuskan untuk tidak menyicipinya. Dan hanya mengabadikannya saja. Hotel tempat kami menginap ini meski hanya berbintang 3 namun sering di sewa untuk acara seperti ini, buktinya beberapa hari saya menginap disana selalu ada pesta pernikahan. 

NB: Foto diambil pukul 7 malam (masih terang ya!)