Jumat, 20 April 2012

Ikan Kaca



#Cerita hari ini tidak akan ada, jika setengah tahun yang lalu Raka tidak mengambil cuti untuk bulan madunya. Raka adalah salah satu rekanku di sebuah koran internasional. Jadi, hari selasa enam bulan yang lalu, aku berangkat menggantikan Raka ke sebuah perkampungan di daerah pesisir. Total 13 jam aku berada di perjalanan. Dua kali ganti kereta api dan sekali menumpang mobil angkutan barang untuk sampai di perkampungan itu. Tentunya rasa lelah luar biasa menghantamku, namun ini bagian dari resiko pekerjaan yang kupilih. Sebagai wartawan, aku harus mencari informasi hingga ke lubang tikus sekalipun. Angin dingin dan gerimis menyambut kedatanganku di perkampungan itu. Setelah bertanya kepada warga sekitar, aku dituntun menuju rumah kepala desa.
“Apa yang membuat kau datang kemari?” tanyanya ketika melihat kartu identitasku.
Kuceritakan apa yang membuatku rela naik kereta api selama sepuluh jam, ditambah tiga jam berada di samping supir angkutan barang.
“Jadi orang kota mulai tertarik dengan ikan kaca kami?” tanyanya sambil tersenyum penuh arti.
Aku mengangguk “Kalau diizinkan, saya akan menginap 2 malam di rumah bapak dan ikut nelayan pergi menangkap ikan kaca.” kataku langsung. Rasa kantuk dan lelah selama perjalanan mulai mengerogotiku. Kepala desa terlihat menimbang sejenak “Kamu bisa tidur dengan Budi, anak laki-laki saya. Soal izin ikut berlayar, kau tanyakan sendiri pada para nelayan itu.”
Aku mengucapkan terima kasih kepada Pak Ahmat, kepala desa. Hal pertama yang kulakukan adalah membasuh diri, mengingat kurang lebih 13 jam aku belum membersihkan diri. Untuk sementara, badanku kembali segar. Aku meminta Budi untuk menemaniku menemui para nelayan. Seperti kata kepala desa, agak sulit membujuk mereka. Namun setelah kujanjikan akan ikut membayar sewa kapal, mereka setuju.

***
Bergulung-gulung ombak menghantam kapal kami. Dengan pencahayaan seadanya, kapal kami menjadi terang di antara gelapnya pagi. Perutku mulai terasa mual dan angin dingin membuat wajahku kebas. Entah berapa kali air masuk ke dalam kapal kami. Bukan perkara mudah menangkap ikan batinku. Setelah beberapa saat, kapal pun berhenti. Dengan terlatih, para nelayan mulai menebarkan jala dan setelah penuh, jala akan diangkat dengan cara ditarik. Aku ikut membantu mereka menarik jala. Kulihat dari jaring-jaring jala itu, sesuatu yang berkilauan. Ikan kaca. Aku mendekatkan diri berusaha melihat lebih dekat. Kulit ikan itu seperti dibalut aluminium. Siripnya bening, dan panjangnya sekitar 90 cm. Segera ku keluarkan kamera untuk mengabadikan ikan kaca itu. Entah apa rasanya pikirku. Kesempatan mencicipi ikan kaca justru datang malamnya. Budi mengajakku ke warung milik pacarnya.
“Kenalin, ini Fitri pacarku” kata Budi.
Gadis itu tersenyum dan mengulang namanya.
“Satria” kataku memperkenalkan diri.
Fitri membawa tiga piring nasi, satu lalapan dan tiga ekor ikan kaca yang telah dimasak.
“Ayo dicoba” tawar Fitri yang segeraku iyakan.
Memang hanya ikan kaca itu yang membuatku penasaran. Sebelum mencoba, aku mengeluarkan kamera dan mengambil gambar masakan Fitri. Rasanya seperti ikan biasa, tapi dagingnya lembut dan segar.
“Enak kan? Di kampung ini, warung Fitri terkenal dengan masakan ikan kaca bakarnya” kata Budi sembari berpromosi.
Aku mengangguk. “Enak banget! Tapi rasanya sedikit manis ya?”
Fitri dengan semangat menceritakan proses pembuatan ikan bakarnya. Suaranya berbaur dengan hujan deras di luar. Hingga kami selesai makan, hujan masih saja deras. Membuat aku tak bisa pulang dan beristirahat. Sedangkan Budi, terlihat asyik mengobrol dengan pacarnya.
“Jadi ibu kota itu seperti apa?” tanya Fitri tiba-tiba.
Bingung harus menjawab apa, aku mengambil kameraku dan memberikannya pada Fitri “Di dalam ada foto ibu kota”
Ia dan Budi melihat dengan antusias. Di dalam kamera itu ada foto gedung kantorku, foto-foto demonstran yang menolak kebijakan pemerintah, foto jembatan rusak, foto banjir dan segala sesuatu yang kuliput.
“#Matahari yang cantik” gumam Fitri.
Rupanya mereka terhenti di foto yang iseng kuambil dari atap kantorku. Matahari senja dikelilingi gedung bertingkat.
“Suatu saat aku akan melihatnya langsung” kata Fitri sambil mengembalikan kameraku.
“Kita” tambah Budi mantap.
Aku menatap mereka berdua “Melihat ibu kota?”
Fitri menggeleng. “Melihat #Matahari”
Kali ini aku tertegun. “Memang di sini tidak ada #Matahari?”
“Memangnya kamu pernah melihat #Matahari di sini?” tanya Budi balik.
Memang selama dua hari ini, langit terlihat mendung. Tapi aku mengira itu karena musim hujan.
“Selama dua puluh tahun aku tinggal disini, tidak pernah sekalipun #Matahari terbit. Kata ibuku, mungkin jika langit kami terang, pasti laut kami akan bercahaya karena terpantul oleh kulit ikan kaca”
Aku membayangkan ucapan Fitri. Sepanjang malam kami sibuk membahas 'keajaiban' di kampung mereka. Dalam hati aku mencatat setiap informasi baru yang mungkin berguna untuk artikelku.

***

Kereta api itu berjalan lambat. Kereta api yang sama ketika membawaku enam bulan yang lalu, tapi kali ini dengan penumpang berbeda. Dari jauh, aku melihat Budi dan Fitri tergopoh-gopoh dengan bawaan mereka. Segera aku menghampiri mereka.
“Satria!” teriak Budi.
Hari ini, enam bulan sejak pertemuanku dengan Fitri dan Bayu, kami berjumpa kembali. Dari surat yang dikirim Fitri sebelum mereka datang, ia menceritakan bahwa sejak kedatanganku enam bulan yang lalu, hidup mereka berubah. Banyak orang asing yang penasaran dengan ikan kaca, dan ingin mencicipinya langsung. Karena itu, warung ikan kaca bakar milik Fitri mulai ramai dipenuhi wisatawan. Bahkan menteri perikanan sempat datang berkunjung kesana. Jalanan ikut di aspal, karena waktu itu menteri akan datang. Menteri juga berjanji akan membantu mereka dalam mendapatkan listrik yang memadai. Pendapatan penduduk pun sedikit membaik, karena mereka juga menyediakan penginapan di rumah mereka. #Matahari tetap tidak terbit di perkampungan itu, tapi secercah harapan baru terbit di hati setiap penduduk perkampungan.
“Ayo! #Matahari sudah menunggu kalian.” kataku. Oh ya, istriku juga bernama #Matahari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar