Jumat, 20 April 2012

Ikan Kaca



#Cerita hari ini tidak akan ada, jika setengah tahun yang lalu Raka tidak mengambil cuti untuk bulan madunya. Raka adalah salah satu rekanku di sebuah koran internasional. Jadi, hari selasa enam bulan yang lalu, aku berangkat menggantikan Raka ke sebuah perkampungan di daerah pesisir. Total 13 jam aku berada di perjalanan. Dua kali ganti kereta api dan sekali menumpang mobil angkutan barang untuk sampai di perkampungan itu. Tentunya rasa lelah luar biasa menghantamku, namun ini bagian dari resiko pekerjaan yang kupilih. Sebagai wartawan, aku harus mencari informasi hingga ke lubang tikus sekalipun. Angin dingin dan gerimis menyambut kedatanganku di perkampungan itu. Setelah bertanya kepada warga sekitar, aku dituntun menuju rumah kepala desa.
“Apa yang membuat kau datang kemari?” tanyanya ketika melihat kartu identitasku.
Kuceritakan apa yang membuatku rela naik kereta api selama sepuluh jam, ditambah tiga jam berada di samping supir angkutan barang.
“Jadi orang kota mulai tertarik dengan ikan kaca kami?” tanyanya sambil tersenyum penuh arti.
Aku mengangguk “Kalau diizinkan, saya akan menginap 2 malam di rumah bapak dan ikut nelayan pergi menangkap ikan kaca.” kataku langsung. Rasa kantuk dan lelah selama perjalanan mulai mengerogotiku. Kepala desa terlihat menimbang sejenak “Kamu bisa tidur dengan Budi, anak laki-laki saya. Soal izin ikut berlayar, kau tanyakan sendiri pada para nelayan itu.”
Aku mengucapkan terima kasih kepada Pak Ahmat, kepala desa. Hal pertama yang kulakukan adalah membasuh diri, mengingat kurang lebih 13 jam aku belum membersihkan diri. Untuk sementara, badanku kembali segar. Aku meminta Budi untuk menemaniku menemui para nelayan. Seperti kata kepala desa, agak sulit membujuk mereka. Namun setelah kujanjikan akan ikut membayar sewa kapal, mereka setuju.

***
Bergulung-gulung ombak menghantam kapal kami. Dengan pencahayaan seadanya, kapal kami menjadi terang di antara gelapnya pagi. Perutku mulai terasa mual dan angin dingin membuat wajahku kebas. Entah berapa kali air masuk ke dalam kapal kami. Bukan perkara mudah menangkap ikan batinku. Setelah beberapa saat, kapal pun berhenti. Dengan terlatih, para nelayan mulai menebarkan jala dan setelah penuh, jala akan diangkat dengan cara ditarik. Aku ikut membantu mereka menarik jala. Kulihat dari jaring-jaring jala itu, sesuatu yang berkilauan. Ikan kaca. Aku mendekatkan diri berusaha melihat lebih dekat. Kulit ikan itu seperti dibalut aluminium. Siripnya bening, dan panjangnya sekitar 90 cm. Segera ku keluarkan kamera untuk mengabadikan ikan kaca itu. Entah apa rasanya pikirku. Kesempatan mencicipi ikan kaca justru datang malamnya. Budi mengajakku ke warung milik pacarnya.
“Kenalin, ini Fitri pacarku” kata Budi.
Gadis itu tersenyum dan mengulang namanya.
“Satria” kataku memperkenalkan diri.
Fitri membawa tiga piring nasi, satu lalapan dan tiga ekor ikan kaca yang telah dimasak.
“Ayo dicoba” tawar Fitri yang segeraku iyakan.
Memang hanya ikan kaca itu yang membuatku penasaran. Sebelum mencoba, aku mengeluarkan kamera dan mengambil gambar masakan Fitri. Rasanya seperti ikan biasa, tapi dagingnya lembut dan segar.
“Enak kan? Di kampung ini, warung Fitri terkenal dengan masakan ikan kaca bakarnya” kata Budi sembari berpromosi.
Aku mengangguk. “Enak banget! Tapi rasanya sedikit manis ya?”
Fitri dengan semangat menceritakan proses pembuatan ikan bakarnya. Suaranya berbaur dengan hujan deras di luar. Hingga kami selesai makan, hujan masih saja deras. Membuat aku tak bisa pulang dan beristirahat. Sedangkan Budi, terlihat asyik mengobrol dengan pacarnya.
“Jadi ibu kota itu seperti apa?” tanya Fitri tiba-tiba.
Bingung harus menjawab apa, aku mengambil kameraku dan memberikannya pada Fitri “Di dalam ada foto ibu kota”
Ia dan Budi melihat dengan antusias. Di dalam kamera itu ada foto gedung kantorku, foto-foto demonstran yang menolak kebijakan pemerintah, foto jembatan rusak, foto banjir dan segala sesuatu yang kuliput.
“#Matahari yang cantik” gumam Fitri.
Rupanya mereka terhenti di foto yang iseng kuambil dari atap kantorku. Matahari senja dikelilingi gedung bertingkat.
“Suatu saat aku akan melihatnya langsung” kata Fitri sambil mengembalikan kameraku.
“Kita” tambah Budi mantap.
Aku menatap mereka berdua “Melihat ibu kota?”
Fitri menggeleng. “Melihat #Matahari”
Kali ini aku tertegun. “Memang di sini tidak ada #Matahari?”
“Memangnya kamu pernah melihat #Matahari di sini?” tanya Budi balik.
Memang selama dua hari ini, langit terlihat mendung. Tapi aku mengira itu karena musim hujan.
“Selama dua puluh tahun aku tinggal disini, tidak pernah sekalipun #Matahari terbit. Kata ibuku, mungkin jika langit kami terang, pasti laut kami akan bercahaya karena terpantul oleh kulit ikan kaca”
Aku membayangkan ucapan Fitri. Sepanjang malam kami sibuk membahas 'keajaiban' di kampung mereka. Dalam hati aku mencatat setiap informasi baru yang mungkin berguna untuk artikelku.

***

Kereta api itu berjalan lambat. Kereta api yang sama ketika membawaku enam bulan yang lalu, tapi kali ini dengan penumpang berbeda. Dari jauh, aku melihat Budi dan Fitri tergopoh-gopoh dengan bawaan mereka. Segera aku menghampiri mereka.
“Satria!” teriak Budi.
Hari ini, enam bulan sejak pertemuanku dengan Fitri dan Bayu, kami berjumpa kembali. Dari surat yang dikirim Fitri sebelum mereka datang, ia menceritakan bahwa sejak kedatanganku enam bulan yang lalu, hidup mereka berubah. Banyak orang asing yang penasaran dengan ikan kaca, dan ingin mencicipinya langsung. Karena itu, warung ikan kaca bakar milik Fitri mulai ramai dipenuhi wisatawan. Bahkan menteri perikanan sempat datang berkunjung kesana. Jalanan ikut di aspal, karena waktu itu menteri akan datang. Menteri juga berjanji akan membantu mereka dalam mendapatkan listrik yang memadai. Pendapatan penduduk pun sedikit membaik, karena mereka juga menyediakan penginapan di rumah mereka. #Matahari tetap tidak terbit di perkampungan itu, tapi secercah harapan baru terbit di hati setiap penduduk perkampungan.
“Ayo! #Matahari sudah menunggu kalian.” kataku. Oh ya, istriku juga bernama #Matahari.

Resensi Novel: I Hate Rich Men


Berhubung GPU memberikan diskon dalam rangka ultah yang ke 38, tentu saya ikut memborong buku-buku incaran. Salah satunya adalah novel I Hate Rich Men. Dalam dua hari, saya sukses melahap habis novel ini. Apalagi kalau bukan rasa penasaran dengan kisah Miranda dan Adrian. Dan Virginia sukses menuliskan bab demi bab dengan rapi dan diselipi kejutan-kejutan yang tak terduga! Membuat saya ingin terus membalik halaman demi halaman hingga akhir. Akhir dari novel yang biasa selalu di tunggu-tunggu juga sangat memuaskan. Novel ini saya beri angka 4.5 dari 5, berikut sinopsisnya versi saya.

Ditinggal mati kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan mengharuskan Miranda menjadi kakak sekaligus single parent untuk Nino. Untungnya Nino bukan tipikal anak bandel, malah membanggakan Miranda. Nino adalah juara pertama di sekolahnya dan mendapat beasiswa ke Amerika! Yang berarti akan membuat Miranda berpisah dari adiknya selama 4 tahun lamanya. Tentu saja perang batin melanda Miranda, karena selama ini mereka belum pernah berpisah dalam jangka waktu yang lama apalagi terpisah oleh jutaan kilometer. Dan sebelum mereka benar-benar akan berpisah, Nino akan pergi berwisata ke Bali selama sepuluh hari dalam rangka perpisahan murid kelas 12. Miranda menganggap itu sebagai latihan kecil sebelum Nino berangkat ke Amerika.
Tepat di hari keberangkatan Nino ke Bali, Miranda diculik!
Betapa terkejutnya Miranda ketika ia membuka mata dan mendapati dirinya tengah berada di Bali, satu hotel dengan Nino dan tentu saja penculiknya! Penculiknya adalah Adrian Aditomo. Seorang konglomerat yang namanya sering wara wiri di kolom-kolom majalah bisnis maupun lifestyle. Miranda pernah bertemu sekali dengan Adrian, tapi sayang pertemuan pertama itu tidak bisa dibilang baik. Tapi itu bukan alasan Adrian menculik Miranda. Adrian menuduh Nino merebut tunangannya. Sontak Miranda tidak percaya, secara Nino baru berusia 17 tahun dan tidak mungkin menyukai wanita yang lebih tua darinya apalagi milik orang lain! Demi mencari tahu kebenaran, Miranda sepakat dengan Adrian untuk memata-matai Nino. Selama 10 hari di Bali, berduaan dan disuguhi pemandangan yang indah, membuat Miranda justru jatuh cinta pada Adrian. Tapi perasaan itu segera ditepisnya jauh-jauh karena ia membenci pria kaya bahkan jauh sebelum ia bertemu Adrian. Pria kaya terlalu arogan dan biang masalah dalam hidupnya. Ditambah Adrian telah bertunangan. Tidak ada dalam kamusnya merebut milik orang lain. Walau begitu pikirannya menyuruh ia untuk menjauhi Adrian, sementara perasaannya berkata sebaliknya. Mana yang akan dipilih Miranda?



Rabu, 11 April 2012

Gadis Berpayung Oranye


#Cerita hari ini tentang seorang gadis berpayung oranye. Dari mama aku tahu kalau rumah di ujung jalan itu telah ditempati keluarga baru. Keluarga gadis itu. Kesempatan berkenalan kudapat dari tempat les piano, Madam Irama. Pemiliknya seorang wanita tengah baya bernama Irama, dia terkenal akan kedisiplinannya dalam berlatih dan mengajar. Gadis itu seorang pianis yang berbakat. Lewat jadwal latihan yang ketat, dia selalu berhasil mendapat peringkat pertama. Karena tempat les Madam Irama berada di dalam komplek perumahan kami, setiap pulang les kami selalu berjalan pulang. Dia di depan dengan payung oranyenya dan aku di belakang memandanginya. Selalu begitu, meski tidak ada hujan dia tetap dengan payung oranyenya. Dua hari dalam seminggu kami bertemu dan hanya melontarkan senyum kecil. Begitu seterusnya hingga suatu hari di musim hujan.
Dia dengan payung oranyenya telah bersiap pulang sementara aku duduk melamun diiringi tumpahan hujan.
“Mau bareng?” tanya gadis itu lembut.
Aku menengadah memandang wajahnya yang sedang tersenyum lalu beralih ke arah langit. Sudah setengah jam dan belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Pandanganku terhenti pada payung oranye itu.
“Payungku cukup lebar untuk kita berdua” katanya lagi seolah dapat membaca pikiranku.
Buru-buru aku tersenyum “Aku mau. Makasih, sebelumnya....”
Gadis itu balas tersenyum “Risna, namaku Risna.”
“Namaku, Jingga” jawabku. Sebenarnya aku sudah tahu nama gadis itu. Cuma rasanya kurang pas jika aku langsung menyebut namanya karena kami belum pernah berkenalan resmi.
Sejak saat itu kami jadi akrab. Risna, gadis yang menyenangkan dan tidak pelit ilmu. Kadang, aku diajak bertandang ke rumahnya yang bekas rumah Bu Cokro. Rumah itu tidak terlalu banyak mengalami perubahan, hanya beberapa perabot yang letaknya diubah dan warna dinding yang dicat baru. Ibunya Risna, tante Eni adalah orang yang pendiam. Tapi pandai memasak. Dia tidak bisa membiarkan tamu pulang dengan perut kosong. Risna, punya saudara kembar. Namanya Risma.
“Kalian seperti pinang dibelah dua” komentarku usai berkenalan dengan Risma.
Risna tersenyum seperti biasa. “Ibuku kadang tidak bisa membedakan kami”
Aku tidak terkejut. Memang mereka terlampau mirip. Mulai dari wajah, potongan rambut, bahkan belahan rambut semua persis. Secara fisik mereka persis. Tapi dari segi sifat jelas berlawanan. Seperti kedua ujung #Magnet yang saling bertolak belakang. Itu kusadari setelah beberapa kali main ke rumah Risna. Jika Risna kelihatan lemah, justru Risma sebaliknya. Dari mata dan gerak-geriknya, Risma terlihat sangat.... liar. Pulang ke rumah selalu bersama segerombolan teman lelaki dan itu pun hanya untuk mengisi perut dengan masakan tante Eni. Risna kelihatan takut dengan adik kembarnya itu.
“Apa rasanya punya saudara kembar?” tanyaku suatu ketika.
Risna berhenti memainkan piano. Wajahnya balik memandangku. “Sama seperti mempunyai saudara lelaki”
Pikiranku melayang pada, Biru. Abang lelakiku.
“Aku punya seorang abang, tapi kami berbeda 10 tahun. Dan dia sudah lama merantau” kataku.
“Risma itu orangnya nekad dan temannya semua laki-laki. Sepertinya dia mempunyai sebuah geng dan dia punya kuasa yang cukup tinggi di sana”
“Dari mana kamu tahu?”
Risna mengangkat bahu “Entah. Perasaanku bilang seperti itu”
Kata orang, saudara kembar memiliki kontak batin. Mungkin sama seperti hubungan Risna dan Risma.
“Aku beri tahu satu rahasia” kata Risna tiba-tiba.
“Tentang?” tanyaku heran.
Risna menjulurkan tangan kanannya, perlahan ia membuka telapak tangannya “Lihat, tahi lalat ini punyaku. Punya Risma ada di sebelah kiri telapak tangannya. Itu cara membedakan kami”
Kami bertatapan lama. “Aku juga punya rahasia” kataku pada akhirnya. Aku menceritakan tabungan yang rutin dikirim kak Biru, tabungan itu sengaja dikirim oleh kak Biru untuk biaya pendidikanku kelak. Dan aku menceritakan itu pada Risna, karena dia mempercayaiku.

*****
Sehari sebelum ujian piano Grade 8 dimulai, Risna tiba-tiba mendatangiku. Tepat dua bulan setelah aku menceritakan soal tabungan yang dikirim kak Biru.
“Jingga, kamu percaya padaku kan?” tanya Risna.
Aku mengangguk mantap.
“Pinjami aku uang”
Jeda sesaat sebelum Risna melanjutkan “Mama sakit dan itu semua gara-gara Risma. Dia ketahuan menunggak uang sekolah selama tiga bulan. Dan sering mencuri uang mama”. Sebulir air mata mengalir di pipinya.
“Kamu butuh berapa?” tanyaku.
Tangan kanan Risna membentuk angka lima “Lima juta. Untuk membayar uang sekolah dan membawa mama berobat”
Tidak ada tahi lalat di sana. Mendadak wajahku kaku. “Kamu bukan Risna” kataku dingin.
“Apa maksudmu?” tanya Risma.
Kuambil telapak tangan kirinya dan menunjukkan tahi lalat itu. Sontak Risma menarik tangannya kembali. “Brengsek, jadi Risna memberitahu rahasia kami” Risma mendengus marah. Tanpa banyak bicara, dia langsung berjalan keluar rumah. Tentu saja tanpa payung oranye.

*****  
Ruang meeting hotel berbintang sekarang beralih fungsi menjadi tempat ujian piano Grade 8. Aku mendapat giliran ketiga untuk tampil. Madam Irama telah sibuk mendata murid dan mendampingi mereka. Kegugupan membanjiri kami dan aku yakin itu juga yang dirasakan Madam Irama. Aku sukses memainkan 3 lagu yang menjadi materi ujian sekaligus bernyanyi solfegio. Madam Irama menyambutku dengan penuh senyuman usai tampil.
“Bagus, Jingga” pujinya. Aku tersenyum. Dari sudut mataku, aku menangkap sosok Risna sedang duduk menanti antrian. Kalau tidak salah dia mendapat giliran ketujuh untuk tampil. Perlahan aku menghampirinya, di luar hujan mulai turun. Risna terlihat pucat dan terkejut ketika aku berada di sisinya.
“Ris, kamu baik-baik aja”
“Risma dalam bahaya, Jingga. Aku harus pergi menolongnya” katanya sambil bangkit dari kursinya. Madam Irama tampaknya tidak memperhatikan kami.
“Tenang dulu, Ris. Memangnya kamu tahu Risma dimana?” cegatku.
“Aku nggak tahu. Tapi aku harus pergi. Perasaanku benar-benar nggak enak” katanya sambil berlari meninggalkanku.
Dua kali aku berteriak memanggilnya, namun ia terus berlari. Payung oranye tertinggal di kursi Risna. Segera aku menyambarnya dan berlari menyusul. Di luar hujan turun sangat lebat, aku membuka payung oranye itu dan mencari Risna. Terlihat beberapa satpam berkumpul mengerubungi sesuatu. Penasaran aku mendekat, dan betapa paniknya aku saat mendapati tubuh Risna bersimbah darah dan tergeletak di aspal.

*****
Tahi lalat itu kini sepasang. Aneh memang. Tapi itulah yang kulihat ketika Risma menaburkan bunga di makam Risna. Baru kali itu aku melihat Risma menangis tersedu-sedu. Sedangkan tante Eni lebih terlihat seperti orang linglung. Raganya berada di pemakaman tetapi jiwanya mati bersama Risna. Dan baru kali itu, aku melihat sosok ayah kandung Risna-Risma. Menurut tetannga, tante Eni adalah istri simpanan yang rutin mendapat nafkah dari suaminya.
Di ujung jalan terlihat mobil polisi yang sedang menanti. Menanti Risma, tepatnya. Dia menjadi saksi dari kasus penusukkan yang dialami Risna. Sebenarnya sasarannya adalah Risma, tapi mereka salah mengenali orang. Motifnya untuk sementara karena balas dendam antar geng. Semua dia yang memulai, tapi kakaknya yang mengakhiri. Apapun itu, tak ada lagi gadis berpayung oranye.

Jumat, 30 Maret 2012

Happy 38th Birthday Gramedia!


Happy 38th Birthday Gramedia!
Selamat ulang tahun yang ke 38 Gramedia!
Semoga di Ultah yang ke tiga puluh delapan, membuat Gramedia semakin terdepan.
Dan terima kasih telah menerbitkan berbagai bacaan menarik. Termasuk kesempatan bertemu dengan salah satu penulis favoritku.
Long Live Gramedia!

Foot note: Behind the scene.

Seperti foto di atas, dasarnya adalah tumpukan buku terbitan Gramedia. Sengaja di atur berbentuk tangga, untuk mencerminkan Step by step Gramedia merintis karirnya di bidang penerbitan maupun toko buku. Dan puncaknya adalah Kue yang sengaja saya buat untuk memperingati Ultah Gramedia yang ke 38. Kue nya berbahan dasar kertas bekas yang saya manfaatkan bagian belakangnya. Sedangkan kotaknya adalah bekas kotak cokelat. Jadi 95% eco Friendly.
Semoga Gramedia menyukai kadonya ^ ^

Rabu, 28 Maret 2012

Pion Hitam


#Cerita hari ini bermula dari ketidaksengajaan bertemu seorang sahabat lama. Kurang lebih 15 tahun aku tak pernah bertemu dengannya. Kami pernah menjadi sahabat karib sewaktu di #bangku sekolah dulu. Namanya Alu. Lengkapnya Alundra Sasongko. Seorang murid yang paling bandel di seantero sekolah. Bagaimana tidak, dia pernah nyaris membakar laboratorium kimia kami. Itu baru satu dari sekian kenakalannya. Kala itu, tak ada yang berani berteman dengannya, seluruh sekolah memandangi dia seperti tengah memandangi monster. Tepatnya memandangi kami berdua. Entah kenapa, dari dulu aku selalu merasa Alu melebihi penampilan luarnya. Bukankah penampilan luar seseorang tergantung dari apa yang ingin dia tunjukkan kepadamu?
Dan Alu menunjukkan sisi lain dari dirinya saat memenangkan lomba catur Nasional. Siapa yang menyangka Alu mempunyai strategi dan kepiawaan dalam bermain catur? Teman-teman mulai menjulukinya Pion Hitam. Karena Alu selalu memainkan pion hitam di dalam setiap lomba. Alu tetap Alu. Tak ada yang berubah meski dia berhasil mengharumkan nama sekolah. Dia masih senang membuat onar di kelas, menggangu guru, bahkan diam-diam merokok di perkarangan sekolah. Herannya dia tidak pernah menawariku atau mencoba mempengaruhiku untuk merokok atau membolos.
Seperti pertemuanku dengannya hari ini, dia masih merokok dan aku yang menghirup kepulan asapnya. Wajahnya terlihat serius memandangi pion hitam putih yang berada di depan kami.
“Giliran loe, Jud” panggilnya dengan bibir yang menggantung sepuntung rokok.
Kali ini giliran aku berpikir keras menghadapi pion hitam Alu. Setiap celah telah di kunci pion hitam itu.
“Gua masih nggak nyangka bisa ketemu loe di persidangan...” kata Alu sambil mematikan puntung rokoknya. “Apalagi loe sekarang adalah Jaksa penuntut gua” lanjutnya sambil tertawa getir.
Lima belas tahun yang lalu, kami adalah kawan dan sekarang kami adalah lawan di mata hukum.
Setelah membobol celah, pion putih berhasil memakan pion hitam.
“Giliran kamu”
Pion hitam Alu masih berdiri di tempatnya, hanya dia kehilangan satu lagi jumlah tentaranya.
“Kalau boleh tahu, apa yang membuatmu sampai nekad menjual narkoba?” tanyaku.
Alu masih menunduk memandangi papan catur, antara sedang berpikir strategi dan berpikir jawaban. Sesaat senyum mengembang di wajahnya.
“Skak Mat” katanya sambil memindahkan sebuah pion hitam ke dalam markas pion putih.
Satu titik dan pion putih tak berkutik.
“Akan sangat tidak adil kalau gua bilang, gua nggak punya pilihan lain. Pilihan itu banyak. Tapi emang ini yang gua pilih. Jualan sabu. Duitnya banyak dan cepat. Bisa untuk melunasi utang mendiang bapak dan membiayai sekolah Dinda” jawabnya enteng.
Adinda, adik perempuan Alu. Dua kali aku bertemu dengannya di persidangan. Selain menua, tak ada yang berubah darinya. Masih terlihat cantik seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Adinda berbanding terbalik dari saudaranya, dia cerdas dan lemah lembut. Satu hal yang mirip dari mereka adalah keberanian mereka.
“Sejak bapak meninggal, ekonomi keluarga gua morat-marit. Gua memutuskan berhenti sekolah. Lagi pula loe kan tahu sendiri gua gimana di sekolah. Percuma juga kalau di lanjutin. Tapi Dinda nggak boleh sampai ninggalin #bangku sekolah. Alhasil gua memutuskan buat pindah dan nyari kerja. Dan kerjaan apa yang bisa gua dapet kalau ijazah SMA aja gua nggak punya?”
Lidahku kelu mendengar jawaban Alu. Sipir penjara datang mengingatkan jam besuk tinggal hitungan menit.
“Permainan kali ini gua yang menang. Kalau boleh tolong loe berikan sedikit diskon masa tahanan” candanya sambil di gandeng oleh seorang sipir.
“Sampai bertemu di pengadilan, Lu” kataku padanya. Yang dijawab dengan seutas senyuman. Aku tahu percakapan hari ini belum tuntas.

Senin, 19 Maret 2012

Seminggu bersama tamu mancanegara

Acara pernikahan adalah salah satu ajang kumpul-kumpul keluarga besar. Waktunya kita ketemu saudara dari segala penjuru dunia dan kadang kita ketemu saudara yang sama sekali belum pernah kita temui.
Berhubung Big Brother saya akan menikah, jadilah rumah kami di penuhi kedatangan tamu mancanegara! Ada tante dan paman dari Jakarta, adik dan kakak perempuan kakek dari Hong Kong dan  Palembang. Itu hanya yang menginap di rumah, belum yang dari tempat lain-lainnya. Kita tentunya bersyukur banget, secara jarang-jarang gitu bisa kumpul keluarga. Terutama dengan kakaknya kakek. Papa dan Mama aja udah 28 tahun nggak pernah ketemu, apalagi saya. Jadi baru kali itu kita ketemu. Usianya kalo ga salah sekitar 85 tahun, secara fisik masih sehat hanya sedikit pikun. Hari pertama datang selalu bertanya di mana letak kamarnya dan berulang kali lupa, tapi salutnya masih bisa naik turun tangga, menari dan nyuci sendiri loh! Kalau adiknya yang dari Hong Kong, masih sangat sehat dan kuat. Hebatnya dia sendirian naik pesawat pulang pergi.
Dan acara pernikahan pun di gelar. Semua keluarga berkumpul dan tamu-tamu menikmati hidangan dan acara. Yang tadinya repot selama berbulan-bulan terbayar dalam satu hari. Usai acara, mereka pun jalan-jalan keliling Medan. Rata-rata komentar mereka tentang Medan kurang begitu baik. Ada yang bilang Medan kotor, hujan setengah jam langsung banjir, dan penguna jalan raya kurang tertib.
Dan terutama keluhan tentang pelayanan di Bandara yang semerawut. Sebagai orang Medan saya cuma bisa diam, yang mereka katakan itu benar adanya. Meski mengeluh tapi mereka tidak kapok datang ke Medan karena kulinernya enak-enak. Terutama Durian!
Waktu Papa bawa pulang durian, semua sudah bersiap-siap makan terutama kakaknya kakek yang sibuk mencari gigi palsunya. Gigi palsunya dia rendam dalam gelas dan hanya di pakai ketika makan. Hari terakhir keberadaanya di rumah, Big Brother saya menemukan gelasnya yang sudah hilang beberapa hari dengan santai dia ambil dan beberapa detik sebelum di minum, pembantu saya bilang: “Bang, itu gelas bekas rendaman gigi palsu.”
Sontak, dia meletakkan gelasnya “Kok kamu kasih gelas saya untuk rendam gigi palsu? Kan masih banyak gelas lain.”
“Nenek yang pilih sendiri, bang. Dia bilang dia suka warna kuning” jawab pembantu saya lugu. Dan memang gelas Big Brother saya warnanya kuning. Otomatis semua yang ada di sana tertawa. Berulang kali Big Brother saya bersyukur tidak jadi minum air bekas rendaman gigi palsu.
“Untung dia nggak suka warna biru” celetuk Second Brother. Husss... nggak baik ngetawain orang tua, karena nggak ada jaminan kalau kita tua tidak akan begitu. :D

Kamis, 08 Maret 2012

Entri Pertama

Jadi hari ini tepatnya, tanggal 8 Maret 2012 saya membuat blog. Emang udah agak kelamaan sih buat blog, but better late than never. Ya ga? :)
Kesan pertama bikin blog ini ternyata lumayan mengasyikkan. Milih-milih tempelate untuk blog, warna tulisan, Font, bahkan gambar background. Semuanya cakep-cakep. Tapi akhirnya pilihan jatuh ke gambar bintang yang jadi background saya.
Niatan bikin blog ini simply just to learn more. Belajar untuk nulis lebih baik, kepikiran ga kalau kita disuruh nulis sebanyak 2 lembar aja bingung. Sama seperti nulis Entri Pertama ini. Bengongnya setengah jam nulisnya lima belas menit. Terus bengong lagi. Hahaha.
Yah, namanya juga pemula. Let's learn!